Oleh Kholis Bakri

MKI Media-  KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin resmi terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026-2031 di Gedung Serbaguna (GSG) KH Hasbullah Said, Senin (31/8/2026) pagi.

Gus Kikin terpilih secara aklamasi oleh 9 kiai anggota Ahlul Hali awal Aqdi (AHWA) untuk menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama.  Sosoknya tidak asing bagi warga NU. Ia adalah pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang setelah ditinggal wafat oleh KH. Shalahuddin Wahid. Rupanya, Gus Kikin sudah lama dipersiapkan tidak hanya menjadi pelanjut pesantren, juga menjadi nakhkoda di PBNU.

Sebelum masuk ke bursa calon Ketua Umum PBNU, Gus Kikin sudah lama berkiprah di organisasi keagamaan ini. Ia adalah Ketua PWNU Jatim periode 2024 – 2029. Pada muktamar NU 2022 ia menjadi salah satu ketua PBNU bidang ekonomi

Silsilah dan Pendidikan Cicit Pendiri NU

Gus Kikin lahir di Jombang pada 17 Agustus 1959 merupakan putra dari pasangan KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum. Ia memiliki garis keturunan ulama besar NU, yakni sebagai cucu Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratus Syaikh KH M. Hasyim Asy’ari.

Ayah Gus Kikin, KH Mahfudz Anwar (1912-1999), dikenal sebagai ulama ahli fikih, tafsir, gramatika Arab, serta pakar ilmu falak. Ia merupakan keturunan KH Anwar Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang, Jombang. Pesantren tersebut berada dalam kawasan yang memiliki hubungan historis dengan Tebuireng dan Seblak.

Sementara dari garis ibu, Gus Kikin memiliki hubungan dengan keluarga besar pendiri Nahdlatul Ulama, Hadrotus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Nyai Abidah Maksum merupakan putri dari KH Maksum bin Ali dan Nyai Khoiriyah Hasyim.   KH Maksum bin Ali dikenal sebagai ulama ahli falak dan penulis kitab Amtsilah at-Tashrifiyah, sedangkan Nyai Khoiriyah merupakan putri KH Hasyim Asy’ari. Dengan garis keturunan tersebut, Gus Kikin merupakan cicit KH Hasyim Asy’ari.

Pendidikan agama dasar Gus Kikin ditempuh di Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang dan Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak Jombang.   Meski tumbuh rapat dengan tradisi pesantren, jalur pendidikan formal Gus Kikin terbilang unik untuk ukuran anak kiai.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah di Jombang (SDN Parimono, SMPN 1 Jombang, SMAN 2 Jombang), ia melanjutkan ke Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta pada 1975–1979.   Di kemudian hari, ia juga menyelesaikan pendidikan Sarjana Komunikasi di Universitas Terbuka pada 2013.

Uniknya, setelah ulus dari Perguruan Tinggi, Gus Kikin tidak kembali ke Pesantren melainkan lebih memilih berlayar dan menjadi pengusaha sukses.  Usai menjalani praktik pelayaran selama tiga tahun, ia bergabung dengan PT Djakarta Lloyd dan dipercaya menjadi Kepala Cabang Cilegon pada 1988 di usia 30 tahun.   Pada 1998, ia mulai mendirikan berbagai perusahaan di Surabaya dan melebarkan ekspansinya ke Jakarta pada 2000.

Gus Kikin berhasil mengembangkan perusahaannya hingga 22 perusahaan yang bergerak di bidang transportasi, kontraktor, teknologi informasi, komoditas (pinang dan minyak atsiri), hingga media penyiaran melalui PT Bama Berita Sarana (BBS Group).   Di sektor energi, Gus Kikin mendirikan PT Energi Mineral Langgeng (EML) yang bergerak di bidang eksplorasi minyak dan gas bumi.

Rekam jejak bisnisnya ini menempatkannya aktif dalam kepengurusan Kamar Dagang dan Industri (Kadin).   Pengalaman menjadi pengusaha berskala nasional memberikan perspektif manajerial yang kuat bagi Gus Kikin, yang kelak menjadi modal utama dalam mendorong kemandirian ekonomi warga Nahdliyin.

Gus Kikin mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama untuk kembali merapatkan barisan dan menjaga kebersamaan setelah rangkaian dinamika yang terjadi selama pelaksanaan Muktamar ke-35 NU. “NU itu bukan untuk berpolitik. NU itu adalah organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan,” tegasnya.

Ia mengatakan NU memiliki pijakan dan pedoman organisasi yang menjadi kompas dalam menjalankan roda organisasi, sehingga NU tidak boleh menjadi alat kepentingan politik tertentu.

Menurut Gus Kikin, hubungan NU dengan politik merupakan dua hal yang berbeda. Sementara dalam hubungan dengan pemerintah, NU akan tetap memberikan dukungan sesuai dengan kewajiban umat Islam. Karena NU sejak awal didirikan sebagai organisasi yang inklusif dan terbuka, seluruh elemen dan potensi yang ada di lingkungan NU akan tetap terwadahi dalam kepengurusan mendatang.

Mampukah Gus Kikin menjadi nakhkoda yang diterima semua kalangan?