Oleh :Ruli Renata

MKI Media – Hari ini mungkin tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Pekerjaan menumpuk. Jalanan macet. Energi seperti habis tertinggal di tempat kerja. Sesampainya di rumah, yang kita inginkan barangkali hanya satu: duduk, makan, lalu beristirahat.

Di meja makan hanya ada menu sederhana. Tidak ada makan malam romantis dengan cahaya lilin khas film film. Hanya dua orang yang sama-sama lelah, tetapi memilih tetap pulang ke rumah yang sama.

Di tengah obrolan ringan, tiba-tiba pasangan menyodorkan satu suap makanan.

“Ini, coba.”

Refleks kita tertawa. Suapan itu diterima. Lalu bergantian kita saling menyuapi. Momen yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi cukup untuk membuat hati terasa jauh lebih ringan.

Kalau kebetulan ada kamera yang merekam, mungkin orang-orang akan menyebutnya couple goals. Atau mungkin ada yang berkomentar sinis, “Ah, bucin.”

Padahal, tidak semua kemesraan membutuhkan penonton.

Ada cinta yang justru paling indah ketika hanya Allah yang menyaksikannya.

Namun menariknya, sebagian dari kita yang ingin “menjaga ketaatan” justru pernah dihampiri pertanyaan kecil.

“Kalau sedang menikmati momen seperti ini, apakah masih bernilai ibadah? Atau jangan-jangan pahala justru berkurang karena terlalu larut dalam kesenangan dunia?”

Pertanyaan itu dijawab Rasulullah ﷺ lebih dari empat belas abad yang lalu.

Beliau bersabda,
”Sesungguhnya apa pun yang engkau nafkahkan akan menjadi sedekah bagimu, bahkan suapan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini terasa begitu menenangkan.

Seolah Rasulullah ingin mengatakan bahwa dalam rumah tangga banyak ibadah “tersembunyi” dalam bentuk yang paling sederhana. Bahkan… dalam satu suapan.

Di sinilah kita melihat betapa manusiawinya Islam.

Allah tidak meminta kita menjadi pribadi yang dingin demi disebut saleh. Allah juga tidak menyuruh kita meninggalkan tawa agar dianggap lebih dekat dengan-Nya.

Sebaliknya, kita diajarkan bahwa kebahagiaan yang ditempatkan pada jalur yang benar justru dapat menjadi jalan menuju pahala.

Para ulama menjelaskan adanya pertemuan antara “al-hazh” hal-hal yang memang kita sukai sebagai manusia dengan “al-haqq“ yaitu sesuatu yang Allah cintai dan ridhai.

Kita senang menghabiskan waktu bersama pasangan. Kita menikmati makan bersama, berjalan sore, bercanda, atau saling menyuapi. Itu semua adalah al-hazh.

Di sisi lain, menjaga kehangatan rumah tangga, membahagiakan pasangan, dan menumbuhkan cinta di antara suami istri adalah bagian dari al-haqq.

Ketika keduanya bertemu, lahirlah sesuatu yang indah.

Hati menikmati kebahagiaan di dunia, sementara langit mencatatnya sebagai amal yang bernilai di akhirat.

Tinggal satu hal yang perlu kita lakukan yaitu mengarahkan hati.

Para ulama menyebutnya “taujihul qalb” menghadapkan hati kepada Allah sebelum atau ketika melakukan suatu amal.

Maka, ketika menyuapi pasangan, ketika menggenggam tangannya, atau ketika tertawa bersama setelah hari yang melelahkan, bisikkanlah dalam hati,

”Ya Allah, aku mencintai pasangan yang Engkau amanahkan kepadaku. Jadikan setiap perhatian dan kasih sayang ini sebagai ikhtiarku menjaga rumah tangga yang Engkau ridhai.”

Tidak ada yang berubah dari aktivitasnya. Yang berubah hanyalah arah hati.

Namun justru dari sanalah nilai sebuah amal bertambah.

Suapan itu tetap satu suapan. Tawa itu tetap tawa yang sama.

Tetapi ketika hati mengarah kepada Allah, momen yang tampak biasa itu berubah menjadi investasi yang terus mengalir hingga akhirat.

Mungkin memang begitulah cara Allah menunjukkan kasih sayang-Nya kepada kita.

Dia tidak hanya menyediakan pahala di masjid, di sajadah, atau saat berpuasa.

Dia juga menyembunyikannya di meja makan, di balik senyum pasangan, di sela percakapan sederhana, dan pada cinta yang dijaga karena-Nya.

Bukankah itu membuat rumah terasa semakin layak untuk diperjuangkan?

#akhukumfillah
#familygrowth