MKI Media – Jakarta, Perang yang saat ini terjadi antara Amerika Serikat – Israel dan Iran tak lepas dari persoalan supremasi politik  dan ekonomi global. Penguasaan sumber daya energi, terutama minyak bumi menjadi faktor utama. Karena itu, menurut Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta  memahami  sejarah dan peta stategis dunia menjadi bekal penting untuk membaca arah politik internasional.

Pesan tersebut disampaikan Anis saat menjadi pembicara dalam Sajid Friday Morning Talk yang diselenggarakan Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (Sajid) di AQL Islamic Center, Jakarta, Jumat (10/7/2026). Diskusi dipandu Ketua Umum Sajid Bachtiar Nasir dan dihadiri jurnalis Muslim serta kalangan akademisi.

“Saat ini sesungguhnya sudah terjadi perang dunia ke-3,” ungkap Anis. Namun, polanya berbeda dengan perang dunia ke-1 maupun perang dunia ke-2. Saat ini, perang tidak sekedar memobilisasi kekuatan militer, tapi juga kekuatan ekonomi dan geografi.  Perang dunia sudah menggabungkan semua potensi secara hybrid, untuk mengokohkan siapa yang mampu memegang supremasi global.

Anis menjelaskan, secara geopolitik dunia terbagi ke dalam dua kawasan besar, yakni Benua Amerika dan gabungan Asia, Afrika, serta Eropa. Menurut dia, pembagian geografis tersebut berpengaruh terhadap distribusi penduduk, kekuatan ekonomi, hingga perebutan pengaruh antarnegara.

Ia memaparkan, sekitar 1,1 miliar penduduk tinggal di Benua Amerika, sementara sekitar 7,1 miliar lainnya berada di tiga benua tua. Meski demikian, kedua kawasan sama-sama menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia dengan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) global.

Menurut Anis, negara-negara Islam yang tergabung dalam kelompok D-8 juga memiliki potensi ekonomi yang besar dengan nilai PDB gabungan mencapai sekitar 5,1 triliun dolar AS. Potensi tersebut, kata dia, dapat menjadi modal penting dalam membangun kerja sama ekonomi dunia Islam.

Selain ekonomi, Anis menekankan bahwa minyak bumi masih menjadi faktor strategis yang memengaruhi hubungan internasional. Sekitar 48 persen cadangan minyak dunia berada di Timur Tengah, sementara hampir sepertiga lainnya berada di kawasan Benua Amerika.

“Timur Tengah menjadi kawasan yang sangat strategis karena menyimpan hampir separuh cadangan minyak dunia. Ini menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat kepentingan geopolitik global,” ujarnya.

Persaingan Blok Barat dan Blok Timur pada era Perang Dingin sesungguhnya masih berlanjut. Namun, karena  kepemilikan senjata nuklir oleh kedua kubu membuat perang terbuka tidak terjadi. Perang berubah menjadi persaingan bergeser menjadi perang proksi di berbagai kawasan.

Ia menilai berbagai pergantian rezim, perang saudara, hingga konflik politik di Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah pada masa itu merupakan bagian dari kontestasi dua kekuatan besar dunia.

Sementara itu, negara-negara Teluk dinilai mampu menjaga stabilitas politik karena ditopang kekayaan minyak dan gas serta kebijakan redistribusi kesejahteraan kepada masyarakat. Kondisi tersebut membuat kawasan Teluk berkembang lebih stabil dibandingkan sejumlah negara Arab non-Teluk yang berkali-kali dilanda konflik politik.

Anis menilai perang AS Israel dengan Iran justru memunculkan kekhawatiran baru di negara-negara Teluk. Sejumlah negara mulai mempertanyakan efektivitas perlindungan keamanan yang selama ini diberikan Amerika Serikat di kawasan. “Kalau pangkalan militer Amerika saja bisa menjadi sasaran serangan, tentu muncul pertanyaan mengenai seberapa efektif perlindungan keamanan itu,” katanya.

Anis juga mengatakan berbagai pihak kini sedang mengevaluasi ulang strategi geopolitik mereka. Iran, negara-negara Teluk, hingga Amerika Serikat, menurut dia, tengah menghitung kembali langkah masing-masing setelah dinamika konflik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Berbagai upaya perundingan yang dimediasi oleh Pakistan berakhir dengan kegagalan. Karena, kedua belah pihak baik Amerika Serikat maupun Iran tidak lagi saling percaya. Apalagi, Israel tidak punya pilihan lain, kecuali terus berperang untuk meruntuhkan kekuatan militer Iran.