Oleh : Nadia Dhubyan

MKI Media – Ayat ini bukan hanya kisah pembangkangan, melainkan sebuah cermin bagi kedalaman jiwa manusia.

Ketika titah langit membelah hening keabadian
Suara itu menggema melampaui singgasana cahaya : “sujudlah”, bukan sujud penghambaan tuhan kepada mahluk melainkan penghormatan semesta kepada rahasia Allah yang bersemayam di balik tanah rapuh bernama Adam.

Tersungkurlah malaikat dalam ketaatan mutlak.
Melarutkan eksistensi mereka dalam Ridha sang pencipta.
Namun, diantara kepatuhan berdiri sosok keangkuhan yg membatu, yaitu iblis. Ia bukan tak mengenal Allah tapi hanya terlalu mencintai dirinya sendiri, api rasa bangga membakar luluh nalar pengabdian.
Terjebak pada kemasan, buta akan isi, memuja asal usul, namun mengkhianati pembuat Asal.

Aba wastakbaro : cahaya menolak cahaya
Keengganan Iblis: menjadi sebuah pemberontakan yang dingin, awal segala luka sejarah.

Iblis tidak terusir karena tak berilmu namun tak melahirkan kerendahan hati.
Pengingat:
– Ketaatan ribuan tahun bisa runtuh dengan setitik keangkuhan.
– ⁠Musuh terbesar bukan jarak melainkan aku yg merasa lebih baik dari dia.
– ⁠Adam dimuliakan bukan karena tanah tapi krn Ruh yang dimuliakan dan ilmu yg ditiupkan kedalam bejana keimanan.

Dalam keagungan Allah tak ada tempat bagi “aku” hanya ada Engkau.
Sujud bukan karena kamu lemah tapi karena sujud satu satunya cara bagi debu menyentuh kemuliaan.