Kajian Surat Al-Jatsiyah ayat 23 mengungkapkan bahwa menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan terjadi ketika seseorang secara sadar memilih menaati perasaan dan keinginannya meskipun tahu Allah melarangnya, bukan sekadar melakukan rukuk dan sujud kepada nafsu.

Allah membiarkan orang tersebut sesat berdasarkan ilmunya dan menutup pendengaran, hati, serta penglihatannya terhadap kebenaran ketika dilakukan secara berulang tanpa taubat.

Definisi Hawa Nafsu

Hawa berasal dari kata Arab yang berarti “udara” yang berubah-ubah (panas/dingin), merujuk pada perasaan yang tidak permanen seperti marah, sedih, takut, kecewa, cinta, dan cemburu.

Nafsu adalah keinginan yang muncul dari perasaan tersebut—misalnya keinginan membalas ketika marah, keinginan selalu bersama ketika cinta.

Trigger (situasi/keadaan) memunculkan hawa, yang kemudian melahirkan nafsu.

Proses Menjadikan Hawa Nafsu sebagai Tuhan

Titik kritis terjadi ketika ada dua pertimbangan: kesadaran bahwa Allah tidak suka versus keinginan mengikuti hawa nafsu.

Ketika keinginan dieksekusi (memaki, memukul, memfitnah, berpacaran, berselingkuh) meskipun tahu Allah melarang, pada titik itu hawa nafsu sudah menjadi tuhan karena yang ditaati adalah hawa, bukan Allah

Ilah (tuhan) adalah yang paling dicintai dan paling ditaati.

Manifestasi dalam Kehidupan

  • Kemarahan:

Orang yang marah dan gelap mata, meskipun tahu salah tetap membalas, berarti menaati hawa nafsunya.

Orang bertakwa juga kesal dan tersinggung, tetapi tidak reaktif dan sadar tidak boleh dikendalikan emosi.

  • Cinta dan Hubungan:

Cinta itu indah dan Islam tidak melarang jatuh cinta, tetapi hawa bisa mengendalikan ketika rasa berubah menjadi kebutuhan dan batas-batas dilanggar.

Pacaran dan perselingkuhan terjadi karena memilih hawa meskipun tahu dilarang .

  • Rasa Takut:

Takut bisa menjadi tuhan ketika seseorang tahu sesuatu benar tetapi memilih diam karena takut kehilangan pekerjaan, dijauhi teman, atau dianggap berbeda.

Selemah-lemahnya iman adalah orang yang diam, sehingga Muslim seharusnya pemberani mengatakan kebenaran.

  • Kesedihan:

Mempertahankan kesedihan bertahun-tahun, tidak menerima takdir Allah, dan tidak menjalankan ibadah adalah bentuk menuhankan hawa nafsu.

  • Cemburu:

Cemburu itu normal, tetapi ketika membakar dan mengendalikan hingga melakukan pembunuhan, yang ditaati adalah hawa bukan Allah.

Konsekuensi Mengikuti Hawa Nafsu

Allah membiarkan sesat berdasarkan ilmu-Nya karena orang tersebut sudah memilih secara sadar dan berulang kali menaati hawa nafsunya.

Pendengaran, hati, dan penglihatan tertutup—kebenaran tidak bisa masuk, tidak bisa membedakan baik dan buruk, dinasihati tidak masuk.

Penutupan hati tidak terjadi dalam satu hari, tetapi dimulai dari membenarkan kesalahan kecil, menuruti keinginan yang jelas salah, dan mengabaikan kebenaran kecil hingga menjadi kebiasaan dan karakter.

Tanda Hati Masih Hidup vs Tertutup

Hati masih hidup:

  • Setelah melakukan kesalahan muncul kegelisahan dan kesadaran “Astaghfirullah, saya salah”
  • Masih bisa menerima nasehat dan mengakui kesalahan

Hati tertutup:

  • Salah tetap dibela, dinasihati malah marah, kebenaran ditolak.
  • Orang yang berbohong terus-menerus tidak bisa lagi membedakan baik dan buruk.

Konteks Surat Al-Jatsiyah

Surat ini dimulai dengan Hamim dan menyatakan Al-Quran diturunkan dari Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

Ayat-ayat Allah ada di langit, bumi, penciptaan manusia, makhluk bergerak, pergantian siang-malam, hujan, dan angin.semuanya ayat bagi yang berakal.

Orang Quraisy menolak Rasulullah karena ego dan tidak mau merendah meskipun Muhammad dari bangsa mereka sendiri.

Orang Yahudi menolak karena iri kenapa nabi terakhir orang Arab bukan Bani Israil, meskipun tahu ciri-cirinya jelas dalam kitab mereka.

Solusi dan Langkah Praktis

  • Mengatasi Kecemasan

Cemas adalah hawa yang membuat fokus pada masalah dan melupakan nikmat Allah yang sudah diberikan

Bersyukur adalah kunci—kesadaran atas nikmat menghilangkan cemas, sedih, dan membuat Muslim bahagia setiap hari.

PR Muslim: ingat minimal satu nikmat setiap hari.

Menghadapi Orang Narcissistic (NPD)

Orang NPD (Narcissistic Personality Disorder) adalah trigger yang memancing emosi.

Yang bermasalah awalnya mereka, tetapi ketika kita terpancing dan reaktif, kita yang dikendalikan dan menjadi bermasalah.

Orang bertakwa tahu kapan menjauh dan tidak membiarkan diri dikendalikan emosi.

Ketika Dihina atau Dicemooh

Fokus pada memperbaiki kualitas diri di hadapan Allah, bukan mengubah pendapat orang.

Pelajaran dari Surat Al-Kautsar: ketika Rasulullah dihina, Allah memerintahkan bersyukur, sholat, dan berkorban—bukan membalas.

Sholat memperbaiki kualitas diri, berkorban memperbaiki akhlak terhadap Allah dan sesama; musuh akan di-handle Allah.

Mengelola Emosi

Ketika marah, Rasulullah mengajarkan: berdiri→duduk→tiduran, supaya reda sebelum mengambil keputusan.

Orang yang rajin sholat seharusnya lebih bisa mengontrol emosi.

Proses Taubat dan Takwa

Takwa adalah kesadaran atas Allah—ketika melakukan kesalahan lalu sadar dan istighfar, hati masih hidup

Puasa Ramadhan adalah training takwa: tujuannya bukan puasa itu sendiri, tetapi membangun kesadaran untuk taat Allah baik dalam keadaan benar maupun salah.

Perjalanan takwa adalah proses: awalnya hawa dituruti lalu menyesal, kemudian makin hari makin bisa mengontrol diri.

Poin Penting Tambahan

Musuh terbesar dalam hidup adalah diri sendiri (hawa nafsu), bukan setan.

Di bulan Ramadhan masih ada yang melanggar aturan karena setannya adalah dirinya sendiri, bukan setan yang sudah dikunci.

Ibadah seperti sedekah, kajian, dan haji bisa disusupi hawa nafsu (ingin terlihat soleh, sombong)—kesadaran atas Allah harus dibangun terlebih dahulu.

Takwa bukan berarti tidak boleh marah—orang takwa boleh marah tetapi marahnya sebagai alat, bukan karakter, dan tidak dilakukan atas dorongan hawa.