“Habis Gelap Terbitlah Terang”

 

Sering banget nongol di caption medsos, tapi banyak yang belum sadar kalau kalimat ini aslinya adalah hasil tadabur Quran.

 

Berdasarkan catatan sejarah, buku kumpulan surat R.A. Kartini yang dikumpulkan oleh J.H. Abendanon pada tahun 1911 awalnya berjudul Door Duisternis Tot Licht. Baru pada tahun 1922 buku ini mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, dan puncaknya pada tahun 1938 sastrawan Armijn Pane menerbitkan terjemahannya dengan judul ikonik yang kita kenal sekarang.

 

Tapi, dari mana asal muasal konsep kalimat berbahasa Belanda tersebut?

 

Faktanya, Ibu Kartini adalah sosok anak muda yang punya rasa ingin tahu tinggi dan haus akan makna mendalam dari ajaran agamanya. Ibu Kartini gak mau cuma sekadar tahu agama dari luarnya saja, tapi pengen banget melakukan tadabur buat menemukan pedoman kehidupan. Dalam salah satu suratnya tertanggal 15 Agustus 1902, pahlawan asal Jepara ini bahkan menuliskan sebuah kutipan yang deep banget:

 

“Dan waktu itu aku berniat menelusuri maknanya… Aku ingin tahu apa yang diamanatkan kitab itu kepada umatnya.”

 

Terus, gimana ceritanya Ibu Kartini bisa dapet jawaban itu?

 

Titik baliknya kejadian pas Ibu Kartini lagi mempelajari kitab tafsir pegon Faidhur-Rahman bareng ulama besar kita, Kyai Sholeh Darat. Di kesempatan itu, sang Kyai kebetulan lagi membedah Surat Al-Baqarah ayat 257 khusus buat Ibu Kartini. Coba kita cek ayatnya sama-sama:

 

ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ

(Allāhu waliyyullażīna āmanụ yukhrijuhum minaẓ-ẓulumāti ilan-nụr).

Artinya: “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.”

 

Mengutip penjelasan ahli tafsir dalam kitabnya Tafsir Quran Al-‘Azhim, Imam Ibnu Katsir menjelaskan maknanya: “Allah mengeluarkan mereka dari gelapnya kekafiran, keraguan, dan kebimbangan, menuju kepada cahaya kebenaran yang terang benderang.” Hal senada juga ditegaskan oleh ulama lain seperti Imam Ath-Thabari, yang menyebutkan bahwa ayat ini adalah petunjuk pasti bagaimana Allah ﷻ mengangkat hamba-Nya dari kebodohan menuju ilmu pengetahuan.

 

Penjelasan tafsir dari para ulama yang disampaikan lewat lisan Kyai Sholeh Darat inilah yang sukses membuat hati Ibu Kartini tersentuh. Konsep berhijrah dari fase zulumat (kegelapan atau kebodohan) menuju nuur (cahaya atau petunjuk) ini benar-benar meresap ke dalam pemikiran Ibu Kartini.

 

Hasil dari tadabur ayat tersebutlah yang kemudian terus menginspirasi Ibu Kartini buat konsisten pakai konsep Door Duisternis Tot Licht di surat-surat pergerakan yang sang pahlawan tulis.

 

Jadi, tiap kali kita denger quote “Habis Gelap Terbitlah Terang”, kita sebenernya lagi ngelihat hasil tadabur agama yang sangat impactful. Kalau merenungi satu ayat Al-Baqarah aja bisa melahirkan gagasan besar yang menggerakkan kemajuan bangsa lewat sosok Ibu Kartini, kebayang gak seberapa luas wawasan, karya, dan inovasi yang bisa kita ciptain kalau kita juga konsisten membedah makna Quran?

 

Yuk, kita mulai rutinin ngulik makna Quran. Siapa tahu, ayat yang kita resapi hari ini bisa jadi jalan terang buat hidup kita ke depan. Semangat berproses! ✨