Oleh: Nadia NA Dhubyan

MKI Media- Duhai pengelana yang punggungnya kian membungkuk oleh beban ekspektasi dunia.
Mengapa kau habiskan tabungan air matamu untuk meratapi bayang-bayang yang pasti memanjang lalu hilang ditelan senja? Kau sibuk menata wajah agar elok di mata mereka yang bahkan tak mampu menatap cermin tanpa cela. Kau bangun menara pengabdian untuk tuan-tuan yang kelak akan menjadi debu, sementara Sang Pemilik Nafas kau biarkan menunggu di ruang tunggu yang sepi.

A. Tragedi Memuja Fatamorgana
Dalam estetika syariat, kita mengenal istilah Al-Istighna’ billah yaitu merasa cukup hanya dengan Allah. Namun, hati kita seringkali menjadi pengemis di pintu-pintu manusia yang terkunci. Kita lupa bahwa setiap pertemuan dengan mahluk adalah mukadimah dari sebuah perpisahan.
Manusia adalah titik-titik garis yang terputus, sementara Allah adalah Al-Awwal (Yang Maha Awal) tanpa permulaan dan Al-Akhir (Yang Maha Akhir) tanpa penghabisan. Menaruh sauh harapan pada manusia ibarat menambatkan kapal pada buih lautan, ia tampak ada, namun tiada saat badai melanda.

B. Simfoni Sunyi di Mihrab Ramadhan
Ramadhan hadir bukan sekadar tentang menahan lapar yang menggerutu, melainkan tentang metamorfosis ruhani. Di bulan ini, langit sedang membuka tirainya lebar-lebar, membisikkan sebuah rahasia besar:
“Bahwa segala rasa lapar ini adalah cara Allah mengosongkan perutmu, agar Dia bisa memenuhi hatimu.”

Saat kau terbangun di keheningan sahur, tataplah langit yang hitam pekat itu. Di sana, tidak ada tepuk tangan manusia, tidak ada validasi dari lisan yang fana. Hanya ada kau dan Dia. Inilah momen Muhasabah yang paripurna, saat kau menyadari bahwa esensi keberadaanmu bukanlah untuk menjadi “sesuatu” di mata dunia, melainkan menjadi “hamba” di mata Sang Pencipta.

C. Melipat Jarak, Memeluk Cahaya
Jika kau terus-menerus memikirkan “bagaimana mereka”, kau akan kehilangan “siapa dirimu” di hadapan Allah. Lepaskanlah genggamanmu pada dahan yang rapuh itu. Biarkan mereka pergi jika memang saatnya tiba, karena pada hakikatnya, Allah sedang membersihkan ruang di hatimu agar hanya tersisa Singgasana-Nya.
Gunakanlah sisa malam di bulan mulia ini untuk merangkai doa dengan rima ketulusan. Biarlah sujudmu menjadi lebih panjang dari keluhanmu, dan biarlah ridhaNya menjadi satu-satunya cakrawala yang kau tuju.

“Engkau mencintai yang mati, maka engkau akan ikut mati dalam kesedihan. Cintailah Yang Maha Hidup, maka engkau akan hidup dalam keabadian cinta yang tak pernah berkhianat.”

Wallahu’alam bishawab