Oleh : Fahmi Salim, Sekjen Ikatan Ulama Muslim Se-Indonesia (IUMS Indonesia) dan Wakil Ketua Komisi HLN-KI MUI Pusat
MKI Media— Di tengah eskalasi konflik antara Israel dan Iran, diskursus publik di dunia Muslim sering terjebak pada perdebatan yang emosional: siapa yang lebih salah, siapa yang lebih benar, dan siapa yang lebih “Islami”. Perdebatan itu mungkin memuaskan secara moral, tetapi sering gagal menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: apa dampak strategis dari konflik ini bagi masa depan umat Islam?
Padahal tradisi Islam sendiri—melalui Al-Qur’an dan Sirah Nabawiyah—memberikan kerangka yang jauh lebih matang untuk membaca konflik geopolitik.
Salah satu pelajaran paling menarik datang dari Surah Ar-Rum.
Nubuat Politik dalam Surah Ar-Rum
Pada awal abad ke-7, dunia dikuasai dua imperium raksasa: Byzantine Empire dan Sasanian Empire. Perang keduanya—yang dikenal sebagai Byzantine–Sasanian Wars—berlangsung selama ratusan tahun.
Pada suatu fase, Persia hampir menghancurkan Romawi. Secara militer, kemenangan Persia tampak tak terelakkan.
Namun dalam situasi itulah Al-Qur’an menyampaikan pernyataan yang mengejutkan: Romawi akan bangkit kembali dan menang dalam beberapa tahun.
Lebih dari itu, Al-Qur’an menyatakan bahwa kemenangan tersebut akan membuat orang-orang beriman bergembira.
Di sinilah letak keunikan perspektif Islam.
Romawi bukan sekutu umat Islam. Mereka bahkan memiliki akidah yang jelas berbeda. Nabi Muhammad justru mengirimkan 3 ekspedisi perang untuk melawan Romawi pasca Hudaibiyah sampai beliau wafat. Namun kemenangan mereka tetap dianggap sebagai kabar baik.
Mengapa?
Karena yang dinilai bukan sekadar identitas pihak yang bertarung, tetapi dampak geopolitik dari hasil perang tersebut.
Bahaya Hegemoni Tunggal
Jika Persia menang mutlak saat itu, mereka berpotensi menguasai seluruh kawasan Timur Tengah. Dominasi tunggal semacam ini berisiko mematikan ruang bagi munculnya kekuatan baru.
Dalam konteks itu, kemenangan Romawi menciptakan sesuatu yang sangat penting: keseimbangan kekuatan.
Dua imperium raksasa saling melemahkan. Jazirah Arab tetap berada di pinggiran sistem kekuasaan global. Ruang inilah yang memungkinkan dakwah Nabi Muhammad berkembang tanpa segera dihancurkan oleh kekuatan imperium.
Sejarah kemudian membuktikan hikmah tersebut.
Setelah wafatnya Nabi, umat Islam di bawah kepemimpinan Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab mampu menaklukkan wilayah luas dari dua imperium yang sebelumnya tampak tak tergoyahkan.
Perang panjang Romawi–Persia ternyata telah melemahkan keduanya.
Dengan kata lain, konflik antara dua kekuatan besar justru membuka ruang bagi munculnya peradaban baru.
Pelajaran yang Sering Dilupakan
Pelajaran penting dari Surah Ar-Rum sering terabaikan dalam diskursus modern: analisis strategis tidak sama dengan persetujuan ideologis.
Kegembiraan kaum Muslim atas kemenangan Romawi tidak berarti mereka menyetujui akidah Romawi. Bahkan setelah itu, Nabi tetap berhadapan dengan mereka dalam berbagai ekspedisi militer seperti Battle of Mu’tah dan Expedition of Tabuk.
Artinya, Islam mengajarkan kemampuan untuk membaca realitas geopolitik tanpa kehilangan prinsip akidah.
Sayangnya, kemampuan ini justru sering hilang dalam perdebatan publik saat ini.
Membaca Konflik Israel–Iran
Konflik antara Israel dan Iran bukan sekadar permusuhan dua negara. Ia adalah pertarungan yang membentuk keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.
Dalam situasi seperti ini, pertanyaan yang sering muncul di kalangan umat Islam justru meleset dari persoalan utama.
Sebagian orang langsung memulai diskusi dengan mengkritik ideologi atau mazhab pihak tertentu. Diskusi semacam itu mungkin penting dalam konteks teologi, tetapi tidak cukup untuk memahami dinamika geopolitik.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apa yang terjadi jika salah satu pihak menang mutlak?
Sejarah menunjukkan bahwa dominasi tunggal hampir selalu membawa konsekuensi yang luas—bukan hanya bagi negara yang kalah, tetapi bagi seluruh kawasan.
Kebutuhan akan Bashirah
Tradisi intelektual Islam menyebut kemampuan membaca realitas ini sebagai bashirah—ketajaman pandangan yang melampaui emosi dan propaganda.
Tanpa bashirah, umat mudah terjebak dalam narasi yang sederhana: membagi dunia menjadi hitam dan putih, teman dan musuh, benar dan salah. Padahal sejarah jarang sesederhana itu.
Surah Ar-Rum mengajarkan bahwa bahkan dalam konflik antara dua kekuatan non-Muslim, hasil perang dapat memiliki konsekuensi besar bagi masa depan Islam.
Dari Nostalgia ke Kesadaran Strategis
Membaca sejarah Islam bukanlah sekadar nostalgia romantis tentang masa lalu. Ia adalah alat untuk memahami cara kerja dunia.
Dalam dunia yang ditandai oleh konflik kekuatan besar—dari Timur Tengah hingga Eurasia—pelajaran dari Surah Ar-Rum menjadi semakin relevan.
Ia mengingatkan bahwa umat Islam tidak boleh hanya bereaksi secara emosional terhadap peristiwa global. Mereka harus mampu membaca struktur kekuatan, keseimbangan geopolitik, dan dampak jangka panjang dari setiap konflik.
Karena dalam sejarah, masa depan sering kali tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras berteriak, tetapi oleh siapa yang paling jernih membaca realitas.
Wallahu A’lam
Jum’at 24 Ramadhan 1447/13 Maret 2026