Oleh : Fahmi Salim, Sekjen Ikatan Ulama Muslim Se-Indonesia (IUMS Indonesia) dan Wakil Ketua Komisi HLN-KI MUI Pusat

MKI Media–Dunia Islam kini tengah menghadapi salah satu fase paling rumit dalam sejarahnya. Tantangan yang dihadapi bukan lagi sekadar perselisihan internal atau konflik perbatasan, melainkan telah berubah menjadi era penindasan total, di mana kedaulatan nasional, tanah, manusia, dan identitas bangsa diabaikan dan dirampas di depan mata dunia.

Dari Palestina hingga Irak, dari Yaman hingga Suriah dan Lebanon, dari Afghanistan hingga Sudan dan Libya terbaru Somalia—skenarionya berulang: intervensi asing, perpecahan internal, dan konflik sektarian yang menjadi bahan bakar bagi proyek ekspansionis Zionis–Amerika–Salibis.

Di tengah tragedi ini, muncul pertanyaan mendasar: Bagaimana seharusnya kita mengelola perbedaan antara Sunni dan Syiah? Apakah kita akan terus larut dalam pertikaian, saling menyesatkan, dan berperang melalui proxy, ataukah kita mampu membangun sebuah pola hidup bersama yang beradab—yang menjaga keunikan akidah dan pemikiran masing-masing, sekaligus mencegah pihak asing memanfaatkan perpecahan ini untuk kepentingannya?

Pendekatan “Taqrib” atau “Ta’ayush”?

Selama beberapa dekade, berbagai inisiatif telah diajukan dengan slogan “pendekatan antar mazhab” (taqrib). Niat di baliknya bisa jadi tulus, tetapi kebanyakan berakhir dengan kegagalan karena terjebak pada kesalahpahaman: seolah “pendekatan” berarti menghapus perbedaan akidah atau memaksakan mazhab baru yang tidak diterima oleh kedua pihak.

Karena itu, yang lebih realistis adalah berbicara tentang kehidupan berdampingan (ta‘āyusy), bukan penyatuan. Kehidupan berdampingan tidak berarti melebur atau meniadakan identitas, melainkan:

  • Mengakui bahwa perbedaan mazhab adalah bagian dari realitas Islam.
  • Mengelola perbedaan agar tetap berada dalam ranah pemikiran dan ijtihad, bukan berubah menjadi pertikaian berdarah.
  • Meneguhkan prinsip kewarganegaraan bersama di negara-negara yang dihuni oleh Sunni dan Syiah, di bawah satu identitas nasional.
  • Membangun kerja sama nyata menghadapi ancaman bersama yang menargetkan semua umat tanpa kecuali—terutama proyek kolonialisme Zionis.

Ketika Umat Mampu Mengelola Perbedaan

Sejarah Islam menyajikan banyak contoh keberhasilan dalam mengelola perbedaan. Di Baghdad pada masa Abbasiyah, berbagai mazhab hidup berdampingan dalam satu atmosfer peradaban; perpustakaan dan majelis ilmu menjadi tempat diskusi terbuka antara para ulama dari berbagai aliran.

Di Andalusia, umat Islam bahkan menunjukkan kemampuan hidup berdampingan dengan Yahudi dan Nasrani—maka mengapa hal serupa tak mungkin terwujud di antara mazhab-mazhab besar Islam sendiri?

Pada era modern, muncul pula inisiatif seperti Konferensi Pendekatan Mazhab di Kairo pada pertengahan abad ke-20, di mana para ulama Al-Azhar dan Najaf berdialog bukan untuk menghapus perbedaan, melainkan untuk menegaskan prinsip: “Kita berbeda dalam cabang, tetapi bersatu dalam menghadapi musuh bersama.”

 

Ketika Perpecahan Digerakkan oleh Pihak Asing

Kini, perpecahan Sunni–Syiah dimanfaatkan oleh kekuatan besar untuk membentuk ulang peta kawasan sesuai kepentingannya. Invasi Amerika ke Irak menjadi contoh paling jelas: retorika sektarian dimobilisasi untuk menyalakan perang saudara yang mempermudah proses penghancuran negara.

Hal serupa terjadi di Suriah, Yaman, dan Lebanon: kontradiksi mazhab disulut untuk memecah persatuan nasional dan mengubah konflik politik menjadi konfrontasi sektarian.

Bahaya terbesar muncul ketika perbedaan akidah berubah menjadi alat saling menumpahkan darah—pada saat itu, umat kehilangan imunitasnya dan menjadi arena terbuka bagi proyek penjajahan. Inilah yang paling menguntungkan bagi proyek Zionis yang berusaha menuntaskan persoalan Palestina di tengah keterpecahan dunia Islam.

Koeksistensi: Membangun Titik Temu

Bagaimana mengubah gagasan hidup berdampingan menjadi strategi nyata? Ada tiga prinsip dasar yang bisa dijadikan pedoman:

  1. Pengakuan dan saling menghormati: Setiap mazhab mempertahankan otoritas akidah dan fiqhnya tanpa memaksakan pada pihak lain. Perbedaan dikelola secara ilmiah dan intelektual, bukan dijadikan alasan untuk saling menumpahkan darah.
  2. Kewarganegaraan bersama: Sunni dan Syiah adalah warga negara yang setara dalam hak dan kewajiban. Tolok ukur loyalitas adalah cinta kepada tanah air dan komitmen terhadap umat, bukan sekadar identitas mazhab.
  3. Prioritas bersama: Palestina harus menjadi kompas utama umat. Musuh sejati adalah penjajahan Zionis dan proyek-proyek ekspansionisnya. Kehidupan berdampingan menuntut kita memusatkan perhatian pada musuh utama, bukan terjebak dalam konflik kecil yang digerakkan oleh pihak asing.

 

Umat Terpecah: Keuntungan Zionis

Proyek ekspansionis Zionis–Amerika–Salibis bertujuan menjaga kawasan ini dalam pusaran konflik mazhab agar rencananya dapat berjalan mulus:

  • Menyelesaikan persoalan Palestina dengan menghapusnya dari peta perjuangan umat.
  • Memecah negara-negara besar Arab menjadi entitas sektarian dan etnis kecil.
  • Menguasai sumber energi dan jalur strategis dunia.

Jawaban terhadap konspirasi ini bukan pidato panjang atau konferensi seremonial, melainkan membangun front Islam yang luas berdasarkan prinsip hidup berdampingan: “Mari berdampingan sebagai Muslim, bersatu sebagai umat, menghadapi musuh bersama.”

Hidup Berdampingan: Jalan Kekuatan

Hidup berdampingan bukan hanya pilihan politik pragmatis, tetapi nilai peradaban yang mendalam. Ketika Nabi ﷺ mendirikan Piagam Madinah, beliau menciptakan konstitusi pertama di dunia yang mengatur hidup berdampingan antara Muslim, Yahudi, dan kaum musyrik. Jika dengan non-Muslim saja hal itu mungkin, maka seharusnya lebih mungkin antara sesama Muslim yang berbeda mazhab.

Kehidupan berdampingan juga merupakan jalan menuju izzah (kemuliaan) yang dijanjikan Al-Qur’an: “Dan hanya bagi Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang berimanlah kemuliaan itu.” (QS. Al-Munafiqun: 8)

Kemuliaan tidak akan terwujud melalui pertikaian internal, tetapi melalui persatuan dalam menghadapi penjajahan dan kezaliman.

Dari Perbedaan Menuju Koeksistensi

Perbedaan antara Sunni dan Syiah adalah kenyataan historis yang tak bisa dihapus. Namun, ia bukan takdir yang harus berujung pada perang abadi. Mengelola perbedaan adalah tanggung jawab ulama, cendekiawan, dan pemimpin umat agar tidak menjadi alat penjajahan baru.

Jalan menuju masa depan adalah kehidupan berdampingan:

  • Mengakui perbedaan akidah dan pandangan.
  • Membangun kewarganegaraan yang inklusif.
  • Mengarahkan kompas perjuangan ke musuh yang sesungguhnya.

Hanya dengan cara ini dunia Islam dapat bergerak dari era penindasan menuju era kebangkitan dan perlawanan, dari medan fitnah menuju arena peradaban. Kehidupan berdampingan bukan kemewahan intelektual—ia adalah syarat keberlangsungan umat.

Bersambung… Ke Tulisan Berikutnya

Sumber:

Sunni dan Syiah: Mengelola Perbedaan untuk Menghadapi Proyek Zionis (I) | Republika Online