Oleh: Nadia NA Dhubyan
MKI Media– Ada yang lebih riuh dari sekadar suara, yaitu sunyi yang mendadak penuh.
Aku merindukan malam-malam di mana langit seolah merendah, membiarkan bait-bait tadarus merayap masuk melalui celah jendela, memeluk bantal-bantal kita, dan membisikkan bahwa doa-doa sedang diantarkan langsung ke singgasana-Nya. Suara itu bukan sekadar rekaman, ia adalah detak nadi yang membuat dada kita terasa lebih lapang dari biasanya.
Lalu, lihatlah bagaimana jalanan bercerita.
Tentang langkah-langkah yang tak lagi ragu, tentang shaf-shaf yang rapat, di mana bahu bertemu bahu tanpa jarak. Kita berbondong menjemput damai, seolah masjid adalah satu-satunya dermaga yang paling aman untuk menyandarkan lelah yang selama ini kita pikul sendirian.
Dan puncaknya, ada pada detik-detik sebelum azan Maghrib berkumandang. Bukan tentang meja yang penuh, tapi tentang rasa menanti. Ada getaran halus di udara. Kolaborasi antara syukur, letih yang nikmat, dan kehangatan yang tak bisa dibeli.
Di ambang berbuka, kita belajar bahwa hal-hal paling berharga di dunia ini seringkali datang dari sesuatu yang paling sederhana: segelas air dan kehadiran orang-orang tercinta.
Ramadhan bukan sekadar bulan,ia adalah perasaan pulang yang paling kita tunggu.
Barangkali rindu yang paling jujur adalah rindu pada diri kita sendiri yang jauh lebih tenang saat Ramadhan menyapa.