Oleh: Nadia NA Dhubyan
MKI Media– “Jika raga ini ibarat sebuah buku, maka setiap halamannya adalah catatan tentang luka yang dijahit rapi. Perjalanan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan skenario agung yang dituliskan oleh Sang Pemilik Hidup untuk mendewasakan jiwa saya.
Labirin Diagnosa yang Menyesatkan
Jauh sebelum saya mengenal nama Sjogren. Qadarullah,raga ini sudah lebih dulu akrab dengan meja operasi. Dimulai dari operasi usus buntu, disusul dengan operasi amandel, seolah tubuh ini sedang dipersiapkan untuk ujian yang jauh lebih besar.
Lalu, badai itu datang tanpa permisi. Saya terjebak dalam labirin kebingungan. Tubuh saya bicara lewat rasa perih di lambung (maag kronis), GERD yang membakar, hingga peluh dingin yang membasahi tubuh tanpa sebab yang juga melemahkan tubuh. Saya berkelana dari satu koridor rumah sakit ke koridor lainnya. Di RS Antam Medika, pencarian jawaban dimulai, setelah melewati test lab yang banyak Dokter menyimpulkan saya menderita autoimmune, saya harus mengkonsumsi banyak obat dan vitamin. namun kemudian, takdir membawa saya lebih jauh ke RS Jantung Harapan Kita. Di sana, saya sempat tertegun, dokter memvonis adanya kelainan kelistrikan jantung yang memaksa saya bergantung pada obat seumur hidup.
Tak berhenti di situ, langkah saya tertatih menuju RS MMC. Di sana, ditemukan saraf terjepit (HNP) yang mengharuskan saya menjalani terapi inframerah secara rutin. Puncaknya, dalam suatu hari yang mencekam, tubuh saya benar-benar tumbang. Saya dilarikan dengan ambulance menuju MMC dalam kondisi meriang hebat yang melumpuhkan, tubuh ini sulit bergerak.
Mukjizat di Antara Sayatan Bedah
Di tengah perjuangan fisik, ada doa yang terus melangit. Sebagai ikhtiar untuk memiliki keturunan, Saya harus menjalani operasi pembukaan dua tuba yang lengket untuk menjemput buah hati. Allah Maha Baik, 2 bulan kemudian Alhamdulillah saya hamil, di balik sayatan itu ada kebahagiaan setelah penantian panjang, 9bulan berlalu lahirlah Nazzaida melalui proses caesar, dikarenakah rasa Sakit bekas operasi sebelumnya mengakibatkan saya tak bisa melahirkan normal.
Namun, ujian puncak terjadi setahun kemudian. Allah kembali menitipkan kehamilan dengan jalan lebih terjal. Terjadi perlengketan hebat antara rahim, kandung kemih, dan plasenta. Di usia delapan bulan, sebuah operasi besar yang mempertaruhkan nyawa harus dilakukan, persalinan sekaligus perbaikan organ yang saling mengunci. Ruang ICU menjadi saksi bisu betapa tipisnya jarak antara dunia dan keabadian.
Rasa Lemas yang Tak Kenal Waktu
Kini, musuh misterius itu bernama Sjogrens Syndrome. Ditambah Latar belakang komplikasi yang panjang, Ia membawa satu rasa yang sulit dijelaskan: lemas yang melumpuhkan. Ia adalah tamu yang tak sopan, datang menyerang tak peduli apakah saya sedang tertawa bahagia atau sedang dirundung duka. Rasa lemas itu bisa menghapus paksa sisa tenaga, seolah berbisik bahwa daya dan upaya hanyalah milik-Nya. Maka, raga ini benar-benar tidak boleh tegang, tidak boleh banyak pikiran, apalagi lelah.

Ikhtiar dari Alam: Lahirnya Ohnuna
Dalam proses ‘bersahabat’ dengan sakit ini, Qadarullah saya menemukan ketenangan melalui ramuan alami. Saya memilih untuk rutin meminum godokan kunyit, sereh, dan gula aren murni (rutinitas yang sering dilakukan Ummi sejak saya kecil). Ikhtiar sederhana ini ternyata membawa dampak yang luar biasa bagi tubuh saya yang sensitif.
Berawal dari kebutuhan pribadi, kini ikhtiar tersebut menjelma menjadi sebuah bisnis mikro yang saya beri nama Ohnuna. Produk ini lahir dari tangan yang mulai mengerti arti penting kemurnian. Ohnuna dibuat dengan penuh cinta, menjaga kemurnian yang berbeda dari produk lain, karena saya tahu bahwa bagi mereka yang sedang berjuang melawan penyakit, kualitas adalah segalanya.
Nasehat Syariat: Menjemput Ridho dalam Keterbatasan
Dalam pandangan syariat, sakit bukanlah sebuah kutukan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari & Muslim).
Kini, tugas saya adalah menjaga hati. Tubuh boleh lelah, raga boleh lemas, tapi semangat untuk memperbaiki diri, menjaga marwah sebagai istri, dan menebar manfaat melalui Ohnuna harus tetap menyala. Sebab, kemenangan sejati adalah saat kita tetap ridho kepada Allah meski dalam keadaan sakit, dan tetap berusaha menjadi tangan di atas meski raga tak lagi perkasa.”
Tetaplah husnudzan.
Wallahu’alam bishawab.