Oleh: Nadia NA Dhubyan
MKI Media–Kita sering kali terjebak dalam delusi bahwa kemuliaan bulan suci berbanding lurus dengan tumpukan piring di meja makan. Padahal, jika kita menilik pada substansi hukum puasa, ada amanat eksplisit untuk melakukan distraksi dari keduniawian, bukan malah merayakannya secara kolosal di pusat perbelanjaan.
Ada sebuah ketidakseimbangan perdata antara apa yang kita butuhkan dan apa yang kita pamerkan.
1. Gugatan Terhadap Konsumerisme
Seringkali, niat tulus untuk beribadah terdistorsi oleh wanprestasi spiritual. Kita menyusun list belanjaan seolah-olah sedang mempersiapkan eksepsi di pengadilan, padahal perut kita hanya punya kapasitas yang terbatas.
Secara legitimasi moral, berlebihan dalam berbelanja (israf) adalah pelanggaran terhadap kontrak kita dengan Sang Pencipta. Kita membeli apa yang tidak kita makan, dan memamerkan apa yang sebenarnya tidak menambah nilai pada ketaqwaan kita. Bukankah ironis jika tangan yang menengadah meminta ampunan, adalah tangan yang sama yang tak henti menggesek kartu kredit demi gengsi sesaat?
Allah azza wa jala telah menetapkan batasan yang jelas dalam konsumsi melalui QS. Al-A’raf: 31. Secara sastra, ayat ini adalah surat peringatan bagi hamba-Nya agar tidak melakukan tindakan yang sia-sia.
“…makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras melalui hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin bersikap terhadap harta dan konsumsi:
“Makanlah, minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah tanpa disertai sifat sombong dan berlebih-lebihan.” (HR. Bukhari)
2. Memulihkan Hakikat Makna
Makna puasa bukanlah tentang memindahkan jam makan, melainkan tentang restrukturisasi jiwa.
* Sederhana adalah Mandatori. Jangan biarkan meja makan menjadi saksi bisu atas pemborosan yang kita lakukan.
* Efisiensi Ruhani. Bayangkan jika energi yang kita habiskan untuk mengelilingi pusat perbelanjaan dialokasikan untuk investasi di akhirat.
* Keadilan Sosial. Ada hak orang lain dalam setiap kelebihan harta kita. Berlebihan belanja adalah bentuk pengabaian terhadap rasa empati yang seharusnya diasah selama Ramadhan.
Pada akhirnya, yang sampai kepadaNya bukanlah kuantitas hidangan yang kita santap saat berbuka, melainkan kualitas ketaqwaan yang tetap terjaga dalam sunyi.
Hidup secukupnya adalah bentuk pembelaan terbaik bagi jiwa kita sendiri. Jangan biarkan diri kita kalah dalam persidangan nurani hanya karena nafsu belanja yang tak bertepi. Mari kita rayakan puasa dengan keheningan yang penuh arti, bukan keramaian yang tanpa isi.
Wallahu’alam bishawab