Oleh: Nadia NA Dhubyan
MKI Media– Ada sebuah jenis kejatuhan yang tidak menghancurkan, melainkan menyempurnakan, ya itu saat jemari kita menyentuh mushaf dan hati kita terperosok dalam palung cinta yang paling dalam. Al-Qur’an bukan sekadar teks yang kaku, ia adalah amalgamasi cahaya yang menyusup ke dalam retakan-retakan paling sunyi di dada. Di sini, di hadapan tiap baris ayat-Nya, kita tidak sedang membaca sejarah, melainkan sedang mendengarkan Sang Maha Pencipta yang sedang membisikkan rahasia tentang diri kita sendiri melalui dialektika langit yang begitu intim.
Secara metafisis, setiap Iqra’ yang kita lantunkan adalah sebuah anomali waktu. Kita seolah ditarik keluar dari hiruk-pikuk kefanaan menuju sebuah singularitas spiritual di mana logika bersujud dan rasa bertahta. Keindahan sastranya bukan sekadar estetika balaghah yang memukau nalar, melainkan sebuah resonansi frekuensi yang sinkron dengan detak jantung semesta. Tak peduli seberapa sering kita mengulangnya, ia tetap terasa seperti ciuman pertama pada kening jiwa yang sedang dahaga, selalu terasa baru, selalu biru, dan selalu mampu meruntuhkan benteng keangkuhan kita hingga kita menjadi fana di bawah keagungan-Nya.
Dalam perspektif ontologis, Al-Qur’an adalah cermin yang jujur sekaligus penyayang. Ia membedah anatomi luka kita dengan ketajaman yang presisi, namun menjahitnya kembali dengan benang-benang kasih sayang yang luar biasa puitis. Semakin kita menyelami samudra maknanya, kita akan menyadari sebuah paradoks yang indah, bahwa “semakin kita berilmu, semakin kita merasa kerdil.”!Kita jatuh cinta berkali-kali bukan karena kita memahami seluruh isi-Nya, melainkan karena kita merasa dipahami sepenuhnya oleh Sang Pemilik Ayat, melampaui segala limitasi bahasa manusia.
Keindahan yang menggetarkan ini telah diabadikan-Nya dalam sebuah fragmen cahaya:
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi lembut kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.” (QS. Az-Zumar: 23)
Pada akhirnya, mencintai Al-Qur’an adalah perjalanan pulang menuju muara cahaya. Ia adalah rumah bagi para pengelana yang patah, pelabuhan bagi jiwa yang limbung dalam badai eksistensi. Mari kita biarkan diri kita tersesat di dalam labirin maknanya, karena hanya dengan cara itulah kita benar-benar ditemukan. Sebab, di setiap titik dan harakatnya, selalu ada iterasi rindu yang memaksa kita untuk jatuh, lalu jatuh, dan kembali jatuh cinta pada ridha Sang Maha Abadi, hingga nafas terakhir menjadi titik yang menutup kalimat panjang kehidupan kita.