Oleh Fahmi Salim, Ketua Umum Fordamai dan Wakil Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri MUI Pusat
MKI Media – Di rimba dunia yang disesaki oleh perang, propaganda, dan perebutan kekuasaan, shalat sering dipersempit maknanya menjadi sekadar ritual individual. Ia dianggap urusan privat antara manusia dan Tuhan, jauh dari urusan publik, apalagi politik dan keadilan global. Padahal, dalam sejarah Islam, shalat justru lahir sebagai bentuk perlawanan sunyi: perlawanan tanpa senjata, tanpa teriakan, tetapi paling dalam dan lama daya tahannya.
Isra Mikraj terjadi bukan di masa kejayaan Nabi Muhammad ﷺ, melainkan pada fase paling gelap dalam hidup beliau. Istri tercinta wafat, pelindung politik meninggal, dakwah ditolak, dan kekerasan dialami secara fisik maupun psikologis. Dalam situasi itulah, Allah tidak menghadiahkan untuk Sang Rasul kemenangan politik atau kekuatan militer, melainkan shalat. Ini pesan yang sangat politis sekaligus spiritual: ketika dunia menutup semua pintu, Allah membuka pintu langit.
Shalat, sejak awal, bukan sekadar ibadah personal. Ia adalah ketahanan hidup (resiliensi) sekaligus perlawanan (resistensi).
Berdiri Tegak di Hadapan Tuhan
Dalam shalat, seorang muslim berdiri tegak (qiyam). Secara simbolik, ini adalah sikap keberanian. Orang yang terbiasa berdiri di hadapan Tuhan tidak mudah tunduk kepada kezaliman manusia. Sejarah mencatat, para nabi dan orang saleh selalu berhadap-hadapan dengan tirani.
Fir’aun takut bukan kepada senjata Musa, tetapi kepada keyakinannya. Para penjajah takut bukan kepada jumlah umat Islam, tetapi kepada kesadaran spiritual yang melahirkan keberanian moral. Shalat melatih keberanian itu—tanpa sorak sorai, tanpa lampu sorot panggung.
Sujud: Puncak Kerendahan, Sumber Perlawanan
Sujud sering disalahpahami sebagai simbol kepasrahan total yang mematikan daya kritis. Padahal dalam Islam, sujud justru menolak pasrah tunduk kepada selain Allah. Orang yang bersujud hanya kepada Tuhan tidak akan pernah tunduk kepada kekuasaan yang zalim, konglomerasi yang rakus, atau ideologi yang menindas.
Itulah mengapa sujud menjadi simbol perlawanan umat tertindas. Di Gaza, di masjid-masjid yang hancur, di pengungsian, di penjara-penjara politik, shalat tetap ditegakkan dengan khusuk. Mereka mungkin kehilangan rumah, keluarga, bahkan masa depan, tetapi tidak kehilangan martabat. Shalat menjaga martabat itu.
Shalat dan Palestina: Hubungan yang Tak Terpisahkan
Isra Mikraj dimulai dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa. Artinya, shalat—hadiah Isra Mikraj—lahir dengan membawa jejak Palestina. Maka memisahkan shalat dari isu Al-Aqsa dan Gaza bukan hanya keliru secara syariat, tetapi juga cacat secara akidah.
Ketika umat Islam menjaga shalat, seharusnya ingatan mereka juga terjaga tentang tanah yang menjadi saksi perjalanan Nabi ﷺ. Shalat bukan hanya menghadap kiblat, tetapi juga memberi respon dan proaktif terhadap sejarah penderitaan dan harapan umat.
Perlawanan Sunyi di Tengah Kebrutalan
Hari ini, dunia memuja kekuatan yang berisik: senjata canggih, algoritma media, opini yang viral. Shalat tidak masuk logika itu. Ia sunyi, berulang, dan tampak diam. Namun justru di sanalah kekuatannya.
Shalat melatih kesabaran jangka panjang, sesuatu yang tidak dimiliki oleh perlawanan instan. Ia menanamkan disiplin, ketahanan mental, dan orientasi akhirat—tiga hal yang membuat umat Islam tetap hidup meski dihantam berkali-kali di era Perang Salib, serbuan Mongol, konspirasi Zionisme sepanjang abad-20 hingga era Mulkan Jabriyah dan perang global anti-Islam di awal abad 21.
Penjajah datang pergi silih berganti, rezim-rezim runtuh, ideologi berubah. Tapi spirit perlawanan yang dilahirkan shalat tetap bertahan dan jauh lebih kuat.
Bahaya Shalat yang Kehilangan Ruh Perlawanan
Namun ada bahaya besar mengintai ketika shalat kehilangan daya perlawanan dan etos kreatifitasnya. Ketika ia hanya menjadi rutinitas, tanpa kepekaan sosial. Ketika orang rajin shalat, tetapi diam membisu melihat ketidakadilan. Ketika masjid penuh, tetapi nurani kosong. Ketika sukses berislam diukur dengan festival maulid, haul dan shalawatan yang riuh sesak, tetapi daya saing umat yang rendah dan saintek tertinggal jauh dari umat lain.
Al-Qur’an sudah mengingatkan: “Celakalah orang-orang yang shalat, yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5) Lalai bukan berarti meninggalkan gerakan, tetapi kehilangan makna. Shalat yang sejati seharusnya mencegah kezaliman dan menghadirkan keadilan, bukan meninabobokkannya.
Spiritualitas yang Menggerakkan, Bukan Melarikan
Isra Mikraj sering diperingati sebagai peristiwa spektakuler, tetapi banyak yang lupa pesan terbesarnya: kembali ke bumi membawa tanggung jawab dan misi peradaban. Nabi ﷺ tidak tinggal di langit. Beliau kembali menghadapi realitas pahit masyarakatnya, dengan bekal shalat.
Singkatnya, shalat bukan pelarian dari dunia, tetapi energi untuk mengubah dunia.
Penutup
Di tengah dunia Islam yang terluka di Palestina, Suriah, Rohingya, Uyghur, Yaman, Sudan, Somalia dan Libia, juga bencana ekologis di Aceh, Sumut dan Sumbar, shalat adalah bentuk perlawanan paling konsisten. Ia tidak viral, tidak heroik, tetapi tak bisa dimatikan. Ia menumbuhkan manusia-manusia yang mungkin kalah secara politik, tetapi menang secara moral.
Selama umat Islam masih berdiri, rukuk, dan sujud dengan kesadaran—selama itu pula perlawanan sunyi belum berakhir.
Dan mungkin, justru dari kesunyian dan keheningan shalat itulah perubahan besar dunia akan lahir. Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. (Q.s. an-Nur: 55)
Jumat, 16 Januari 2026/27 Rajab 1447