MKI Media-Pejuang Hamas akhirnya mengkonfirmasi bahwa juru bicara sayap bersenjata mereka, Abu Ubaidah, dan pemimpin Gaza Mohammed Sinwar telah syahid pada hari Senin (29/12). “Brigade Al-Qassam mengumumkan gugurnya juru bicara resminya, Abu Ubaidah, bersama sejumlah pimpinan Dewan Militer, serta menegaskan penunjukan juru bicara baru untuk melanjutkan perjuangan. Kami menekankan bahwa darah para syuhada akan tetap menjadi bahan bakar perlawanan hingga pembebasan,” begitu pernyataan Hamas.
Dalam pernyataannya, Brigade al-Qassam juga mengungkapkan bahwa sosok Abu Ubaida bernama asli Hudhaifa Samir Abdullah Al-Kahlout alias Abu Ibrahim. Kemudian, kelompok pejuang saat ini telah menunjuk juru bicara baru yang nama sandinya juga Abu Ubaidah.
Pernyataan terakhir Abu Ubaidah yang syahid dilansir pada awal September ketika Israel memulai tahap awal serangan militer baru di Kota Gaza, menyatakan daerah tersebut sebagai zona pertempuran karena menghancurkan ratusan bangunan tempat tinggal dan warga Palestina melarikan diri secara massal.
Abu Ubaidah adalah suara kunci Hamas di Gaza, mengeluarkan pernyataan tentang perkembangan terkini di medan perang, pelanggaran gencatan senjata dan kesepakatan tawanan Israel untuk Palestina awal tahun ini selama gencatan senjata yang berumur pendek, yang secara sepihak diruntuhkan oleh Israel.
Sinwar dan Abu Ubaidah adalah perwakilan Hamas terbaru yang dikonfirmasi dibunuh oleh Israel dalam dua tahun terakhir, termasuk banyak pemimpin militer dan politik Hamas, seperti pemimpin politik terkemuka Yahya Sinwar; komandan militer Mohammed Deif, salah satu pendiri Brigade Qassam pada tahun 1990-an; dan pemimpin politik Ismail Haniyeh, yang dibunuh di ibu kota Iran, Teheran.
Meskipun sedikit yang diketahui tentang kehidupannya, Kahlout menyebutkan dalam sebuah wawancara pada 2005 bahwa keluarganya dipindahkan secara paksa oleh milisi Zionis selama Nakba tahun 1948 dan dimukimkan kembali di sebuah kamp yang tidak disebutkan namanya di Jalur Gaza. Pada saat itu, dia menyatakan bahwa dia berusia awal 20-an, menyiratkan bahwa dia lahir pada pertengahan tahun 1980-an.
Sumber di Hamas mengatakan hanya sedikit orang yang mengetahui identitas aslinya sebelum kematiannya. “Abu Ubaidah” adalah nama samaran yang dia gunakan selama Intifada Kedua (2000-2005) ketika dia pertama kali muncul di depan umum. Nama tersebut mungkin merujuk pada Abu Ubaidah ibn al-Jarrah, seorang sahabat Nabi Muhammad yang dihormati dan seorang komandan militer legendaris.
Penampilan publik pertamanya sebagai juru bicara Brigade Qassam adalah pada 2004. Dia mengadakan konferensi pers pada bulan Oktober itu selama serangan darat Israel di Gaza utara.
Sejak saat itu, ia menjadi satu-satunya juru bicara militer kelompok tersebut, menyampaikan pidato dan informasi terkini di medan perang melalui platform media resmi Hamas. Perannya diresmikan di kantor media Hamas pada tahun 2004. Penampilan besar pertamanya terjadi pada tahun 2006 ketika ia mengumumkan penangkapan tentara Israel Gilad Shalit.
Pada 2014, ia juga orang pertama yang mengumumkan penangkapan tentara Israel lainnya, Shaul Aron, selama perang Israel di Gaza, dengan mengungkapkan nomor kartu identitasnya dalam rekaman video.
Kadang-kadang, dia berkomentar di luar masa perang. Pada tahun 2022, setelah penangkapan kembali enam tahanan Palestina yang melarikan diri dari penjara Israel, ia berjanji bahwa Hamas akan menjamin pembebasan mereka melalui pertukaran tahanan di masa depan.
Salah satu pidatonya yang paling menonjol adalah pada tanggal 28 Oktober 2024, ketika ia mengkritik para pemimpin Arab karena gagal membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza.
“Allah melarang” warga Palestina meminta penguasa Arab untuk campur tangan secara militer di Gaza.
Ungkapan “Allah melarang” kemudian menjadi slogan yang banyak digunakan di negara-negara berbahasa Arab dan di media sosial untuk mengekspresikan keengganan para pemimpin Arab untuk bertindak melawan serangan Israel.
Israel melakukan beberapa upaya untuk membunuhnya selama 20 tahun terakhir, termasuk dua upaya sejak Oktober 2023.

Kronologi Syahidnya Syaikh Hudzaifah Samir Al-Kahlout
Seperti dilansir Syaikh Ahmad Zidan tentang kronologi Abu Ubaidah, bahwa pada Sabtu malam, 30 Agustus, dalam salah satu momen pengkhianatan paling keji, seorang mata-mata melaporkan kepada dinas Shin Bet lokasi keberadaan sosok “mulatsam” saat ia mengunjungi keluarganya setelah lama berpisah.
Informasi itu tidak dibantah oleh Shin Bet. Justru dianggap sebagai kesempatan langka yang telah lama mereka nantikan, setelah 14 kali upaya pembunuhan sebelumnya gagal.
Seketika itu juga digelar rapat darurat yang dihadiri para petinggi militer, lalu diputuskan untuk menggunakan pesawat khusus yang memang disiapkan untuk membunuh para pemimpin perlawanan.
Meski mereka mengetahui bahwa target berada di satu apartemen tertentu, seluruh gedung tetap dibombardir, demi memastikan kematian target—sekaligus sebagai aksi balas dendam terhadap seluruh keluarga.
Dalam serangan tersebut digunakan rudal bermuatan bom termobarik yang membakar, senjata yang diharamkan secara internasional. Bom ini melepaskan awan bahan bakar eksplosif ke udara, lalu menyala secara tiba-tiba, menghasilkan panas luar biasa dan tekanan mematikan yang melumat tubuh hingga menguap, menyedot oksigen dari tempat itu, sehingga tak ada manusia maupun bangunan yang tersisa. Maka gugurlah pahlawan kita. Gugur pula istrinya, dan anak-anaknya: Lyan, Mannatullah, dan Yaman.
Tubuh sucinya lenyap seluruhnya, seakan-akan mereka ingin menghapus jejak keberadaannya. Bersamanya, 40 anggota keluarganya (keluarga Al-Kahlout) serta 30 warga sipil tak berdosa turut gugur sebagai syuhada.
Ia gugur menghadapi musuh, bukan melarikan diri, dan kesyahidannya telah didahului janji dan kabar gembira. Sebuah mimpi yang ia ceritakan kepada menantunya, Dr. Mundzir Al-‘Amoudi, di mana ia melihat Rasulullah ﷺ berkata kepadanya: “Engkau akan menjadi syahid hari ini.”
Paginya ia mandi, berhias, dan memakai wewangian. Seakan-akan ia sedang diantar menuju pengantin wanitanya. Ia gugur setelah menunaikan amanahnya, dan membela agama serta tanah airnya dengan darahnya.
Umat pun menangisinya, masjid-masjid dan mihrab menangisinya, dan medan-medan pertempuran pun menangisinya.
Dan kami tak pernah mengira bahwa para syuhada itu mati…mereka hanya pergi, agar kelak bersaksi atas kita.
Semoga Allah menerima syahid kami, dan mengampuni kelalaian kami karena telah mengecewakannya.
Dari berbagai sumber