Oleh Kholis Bakri

MKI Media- Jakarta, Sebuah Ibadah yang diiringi dengan tangisan dan darah, itulah ibadah khitan. Sebuah ibadah wajib bagi seorang muslim, untuk menjadikan semua laku ibadahnya sah di hadapan Allah Azza wa Jalla.  Bukan tradisi, tapi ada pijakan syariatnya. Ibadahnya mengandung nilai kebersihan, kesucian, dan ketaatan kepada Allah. Menjadi simbol penyucian diri baik secara lahir maupun batin bagi seorang anak laki-laki.

Itulah, yang menjadi kegiatan rutin bulanan Majelis Keluarga Indonesia (MKI). Pada Kamis, 25 Desember 2025, khitan massal kembali digelar di Rumah Betawi Babeh Haikal, Jakarta Timur. Kegiatan yang mengingatkan sejarah berdirinya yayasan ini pada tahun 2018. Rasa syukur atas semua nikmat ini, karena semua kegiatan bisa berlangsung rutin yang didukung  infaq dan wakaf jama’ah.

“Inilah ibadah yang pahalanya terus mengalir, apakah kita gak pengen? “ kata Babeh Haikal, ketika memberi sambutan dalam kegiatan Khitan Massal. Babeh juga mengutip sebuah hadist nabi, yang menjelaskan orang yang menjadi fasilitas kebaikan, maka ia pun akan meraih pahala kebaikannya. “Bayangkan, karena kita, anak itu dikhitan lalu sepanjang dia beribadah kepada Allah, kita pun bisa mendapat  bagian pahalanya, karena dengan khitan, ibadahnya bisa jadi sah,” ungkap Babeh, salah seorang pendiri Yayasan MKI.

Ibadah yang awalnya diperintahkan kepada Nabi Ibrahim alaihissalam, yang kemudian jejaknya dilanjutkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.   Allah berfirman dalam surar An-Nahl, ayat 123,yang artinya:“Kemudian, Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim sebagai (sosok) yang hanif dan tidak termasuk orang-orang musyrik.’

Inilah yang menjadi landasan syariat, yang juga dijelaskan oleh Rasulullah, bahwa khitan sebuah fitrah manusia yang mencintai kebersihan dan kesucian. Tak heran, di kegiatan Khitan Massal kali ini, ada sebuah keluarga non muslim, yang membawa anaknya untuk dikhitan. Semoga bisa menjadi jalan hidayah baginya.

Khitan massal MKI yang ke-14 ini, didukung para dokter professional dari  RS Jatisampurna, Bekasi. “Alhamdulillah, khitan dimulai jam 9 dan selesai jam 12, kami ucapkan terimakasih kepada para dokter yang merelakan waktunya untuk berbagi kebaikan,” ujar dr. Fiki Fauzan, Direktur Rumah Khitan Zidan MKI. “In syaaAllah, kami akan rutin menggelar setiap bulan, bahkan di tanggal 14 Februari 2026, selain tarhib Ramadhan, juga menggelar kegiatan khitan massal lagi, bahkan ada bazar,” ungkap Ketua Umum MKI ini.

Dalam tradisi masyarakat muslim, pelaksanaan khitan sering disertai dengan syukuran atau doa bersama, untuk mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan masyarakat. Khitan menjadi simbol identitas untuk menjaga nilai-nilai ukhuwah Islamiyah. Khitan menjadi kemeriahan untuk berbagi kebahagiaan dan semangat gotong royong.

Bagi jamaah Majelis Keluarga Indonesia, kegiatan ini menjadi momentum untuk berjumpa dengan para guru, yang biasanya hanya bisa menyimak tausiahnya secara daring. Kali ini, jamaah bisa berjumpa langsung dengan Babe Haikal Hassan, Tuan Guru Suparman Fajar,  Ust Doddy Al Jambary, Ust Hasan Bisri, Ust Ahmad Hanif dan Ust Saifullah Abu Bakar. Begitu pula, Ketua Dewan Pembina, Selo Ruwandanu dan jajaran pengurus MKI hadir untuk memperkuat asa dan semangat berkarya di tahun 2026.

Ketika Nabi Ibrahim berkhitan dengan kapak di usianya 80 tahun, rasa sakit tidak dihiraukannya demi ketaatan kepada Allah. Inilah yang dipuji Allah kepada kekasih-Nya, Ibrahim alaihissalam. Begitu pula, tangisan anak ketika dikhitan, menjadi penanda siap menerima perintah Allah betapa pun sulitnya dilakukan.

Semoga Allah Ta’ala menerima semua amal kebaikan ini dan menjadi wasilah untuk meraih ridho-Nya. Aamiin