*Obituari Ustadz Muhammad Jazir ASP*:
Oleh : Ady Amar
Ketika Sang Penjaga Masjid Pulang dalam Sunyi
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Kabar itu datang tanpa hiruk-pikuk, seperti cara hidup yang selama ini ia jalani: tenang, bersahaja, dan penuh ketundukan.
Pada 22 Desember 2025, Al-Ustadz Muhammad Jazir ASP telah berpulang, meninggalkan dunia pada usia 63 tahun—setelah menapaki hari-hari panjang dengan tubuh yang diuji sakit, namun imannya tetap tegak dan berserah.
Di tahun-tahun terakhir hidupnya, raga almarhum tak lagi sekuat dahulu. Sakit perlahan menggerogoti tubuh, memaksanya lebih sering diam dan mengalah pada keterbatasan. Namun dari balik ujian itu, tak pernah tampak keluhan yang menuntut iba. Ia menjalani sakit sebagai laku sabar, seolah sedang diajak Tuhan untuk menurunkan langkah, memperlambat napas, dan mempersiapkan pulang dengan hati yang bersih.
Dalam sunyi itu, pikirannya tetap tertambat pada masjid—pada jamaah, pada keberlanjutan amal, pada cahaya yang harus tetap menyala meski dirinya kelak tak lagi ada. Ia seperti sedang merapikan laporan terakhir. Memastikan bahwa apa yang ia bangun tidak bergantung pada sosok, tetapi pada sistem, keikhlasan, dan kesadaran kolektif umat.
Masjid Jogokariyan menjadi saksi paling nyata dari seluruh pengabdian tersebut. Di tangannya, masjid tidak sekadar berdiri sebagai bangunan ibadah, melainkan menjelma pusat kehidupan. Ia hidup, bernapas, dan merangkul—anak-anak, kaum dhuafa, musafir, jamaah yang pulang membawa doa, juga mereka yang datang dengan luka. Masjid menjadi ruang spiritual sekaligus ruang kemanusiaan.
Al-Ustadz Jazir mengajarkan bahwa dakwah tidak selalu lantang. Ia bisa hadir dalam ketekunan yang konsisten, dalam kerja sunyi yang tak menuntut sorot lampu. Ia menanam amal tanpa gaduh, membangun kepercayaan tanpa slogan, dan memimpin dengan keteladanan yang bekerja diam-diam namun berdampak luas. Dari Jogokariyan, inspirasi itu menjalar ke banyak masjid di seluruh Indonesia—ditiru bukan hanya programnya, tetapi juga ruh pengabdiannya.
Kini, tubuh yang selama ini menahan lelah itu telah benar-benar beristirahat.
Pejuang masjid itu telah pergi untuk memberikan laporan panjang tentang hidup yang ia wakafkan sepenuhnya kepada Allah.
Kita hanya bisa berdoa dengan haqqul yaqien: almarhum husnul khatimah.
Semoga setiap langkah menuju masjid, setiap sujud yang ia panjangkan, setiap keputusan yang ia ambil dengan niat lillah, dicatat sebagai amal jariyah yang tak terputus.
Masjid Jogokariyan akan tetap berdiri.
Program-programnya akan terus berjalan. Cahaya yang ia nyalakan akan tetap menerangi banyak arah. Namun kepergiannya meninggalkan ruang hening di hati kita—sebuah kehilangan akan teladan tentang bagaimana hidup seharusnya dipersembahkan.
Selamat jalan, Al-Ustadz Muhammad Jazir ASP.
Rahimahullah rahmatan waasi’ah wa rahmatal abror.
Jannatul Firdaus semoga menjadi tempatmu bernaung.
Dan kami, yang ditinggalkan, hanya bisa melanjutkan cahaya itu—dengan doa, dengan amal, dan semoga dengan kesetiaan menjaga masjid sebagaimana engkau telah mengajarkannya.**
Surabaya, 22 Desember 2025